Bismillah….
Terlepas dengan adanya pro dan kontra keberadaan Facebook, memiliki akun Facebook bisa mendapatkan beberapa manfaat seperti berbagi ilmu dan sebagainya. Ada teman yang meng-update status yang dapat menambah pengetahuan, namun juga tidak jarang yang statusnya hanya untuk sekedar eksis di jagat maya.
Salah satu hal yang, menurut saya, tidak pantas untuk diceritakan adalah memasang status tentang kegiatan ibadah yang dia lakukan. Ada yang update sedang sahur, sedang melaksanakan sholat di masjid x bersama si anu, sedang pengajian bersama kyai fulan, dan sebagainya. Bahkan yang paling lucu adalah ketika mereka menulis update berupa do’a. Kalau tulisannya “dianjurkan berdo’a seperti ini…” atau “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengajarkan do’a ini…” atau yang semisalnya, itu sih nggak masalah, karena memang berbagi ilmu. Lha kalo meminta kepada Allah ta’ala lewat Facebook? itu yang saya nggak habis pikir.
Kalau update status sedang/telah melakukan suatu kebaikan dengan tujuan agar dicontoh orang lain, insya Allah, dia akan mendapat pahala apabila orang lain ikut melaksanakan kebaikan yang dia contohkan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam,
Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam, maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari kiamat, yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk dalam Islam , maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, yang demikian itu tanpa dikurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya. (HR. Muslim).
Tapi bukan berarti setiap melakukan kebaikan terus diberitakan. Kalo seperti itu, lantas dimana letak keikhlasannya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata.” (H.R.Bukhary – Muslim)
Berbuat kebaikan secara terang-terangan memang tidak dilarang. Namun “terang-terangan” di sini kan tidak berarti “kebaikannya” dikabarkan kepada khalayak ramai.
wallahu a’lam.
Filed under: Tak terkategori
